Hadapi seburuk - buruk keadaan dengan sebaik - baik sikap, dan lakukan dengan sebaik - baik tindakan

Sabtu, 29 Mei 2010

Waktu adalah Relatif


Pada tahun 1905 seorang Sarjana Fisika, Albert Einstein,telah mengejutkan sarjana - sarjana lainnya diseluruh dunia dengan sebuah teori Relativitas.Teorinya ini merupakan pemecahan terhadap berbagai persoalan penting yang dihadapi para ahli fisika pada abad 20. Dengan teori ini orang mengetahui tentang kesetaraan massa dan tenaga, yang merupakan dasar dalam perhitungan tenaga Nuklir. Dan juga orang mengetahui bahwa besarnya massa, ukuran panjang, dan waktu adalah relatif, tergantung pada kecepatan sistemnya. Pengaruh kecepatan ini akan sangat terasa sekali bila sangat tinggi mendekati kecepatan cahaya. Menurut teori relativitas, kecepatan cahaya dalam ruang hampa ( 300.000 km/dt ) adalah kecepatan maksimum yang tidak dapat dilampaui oleh materi. Massa suatu benda akan bertambah besar bila kecepatan makin tinggi, sedangkan ukuran panjangnya akan menyusut, dan waktu akan bertambah lambat. Jadi satu jam bagi sistem yang bergerak sangat cepat terhadap kita, mungkin sama dengan satu hari, atau satu bulan, ataupun satu tahun menurut ukuran kita. Relativitas seperti ini sesuai dan dapat dipahamkan dengan firman Tuhan sebagai berikut :

"Tuhan menyelenggarakan urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam sehari yang ukurannya seribu tahun menurut perhitunganmu"

dan

"Sesungguhnya satu hari disisi Tuhanmuadalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu".

Maha Besar Tuhan...


Sumber : Bahan Perenungan Kalbu
Penulis : Ir. Permadi Alibasyah

Minggu, 14 Februari 2010

Memahami Konsep Takdir


Prof. Dr. M. Quraish Shihab seorang pakar tafsir lulusan Al Azhar, dalam bukunya " Lentera Hati ", mengatakan bahwa perintah Allah kepada manusia pada dasarnya ada 2 jenis. Yaitu perintah-Nya yang berkaitan dengan syariat agama, dan perintah-Nya yang berkaitan dengan hukum - hukum alam dan hukum - hukum kemasyarakatan yang disebut Sunatullah.
Perintah yang berkaitan dengan syariat, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain - lain, ditunda ganjaran dan sanksinya sampai hari kemudian. Kalaupun ganjaran atau sanksi itu ada yang dapat dirasakan didunia, itu hanyalah sekedar DP (down payment ). Sedangkan perintah yang berkaitan dengan sunatullah, sanksi dan ganjarannya akan dirasakan dalam kehidupan didunia ini. Siapa yang giat bekerja, elajar akan kaya dan sukses dan itulah ganjaran-Nya. Bukankah hukum - hukum alam dan kemasyarakatan adalah ciptaan dan ketentuan Allah juga, dan penderitaan yang dialami akibat melanggarnya adalah ketetapan_nya juga yang diberlkukan tanpa pilih kasih serta berdasarkan hukum - hukum itu. Bukankah Tuhan telah berfirman dalam kitab-Nya, " Tuhan tidak menganiaya mereka, tetapi mereka menganiaya diri mereka sendiri".
Dari pengertian tersebut, kiranya tidak perlu lagi kita mempertanyakan berikut ini : " Mengapanon-muslim maju sedangkan mereka tidak shalat dan tidak juga puasa ?" Bukankah kemajuan material mereka diraih dengan bertebarannya mereka dibumi dan cucuran keringat? " Mengapa rizki tidak kunjung datang sedangkan tahajjud telah melengkungkan punggung?" Bukankah ini ganjarannya ada diakherat nanti? Dan jangan pula dilupakan, bahwa Tuhan selalu berkenan mengabulkan permintaan manusia, baik ia seorang ahli duniawi maupun ia seorang ahli akherat. ( Kepada masing - masing golongan, baik golongan ( yang menghendaki kehidupan duniawi ) maupun golongan ( yang menghendaki kehidupan akherat ), Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi )
Akhirnya, kita harus sadar, bahwa kebanyakan non-muslim lebih maju dari kita karena kita baru mengamalkan setengah dari perintah Tuhan, sedangkan setengah lainnya dilaksanakan dengan baik oleh mereka. Bukankah didalam kitab telah ditegaskan, " Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan ), kerjakanlah dengan sungguh - sungguh ( urusan ) yang lain."



Sumber :
Buku : Bahan Renungan Kalbu
Penulis : Ir. Permadi Alibasyah

Kamis, 04 Februari 2010

Jadilah Diri Sendiri Yang Terbaik















Jadilah Diri Sendiri Jadilah Diri Sendiri Yang Terbaik


Jika kau tak dapat menjadi pohon meranti dipuncak bukit
Jadilah semak belukar dilembah,
Jadilah semak belukar yang teranggun disisi bukit
Kalau bukan rumput, semak belukar pun jadilah.

Jika kau tak boleh menjadi rimbun, jadilah rumput
Dan hiasilah jalan dimana – mana
Jika kau tak dapat menjadi ikan mas, jadilah ikan sepat
Tapi jadilah ikan sepat terlincah didalam danau

Tidak semua dapat menjadi nahkoda,
lainnya harus menjaadi awak kapal dan penumpang
Pasti ada sesuatu untuk semua
Karena ada tugas berat, maka ada tugas ringan
Diantaranya dibuat yang lebih berdekatan
Jika kau tak dapat menjadi bulan, jadilah bintang

Jika kau tak dapat menjadi jagung, jadilah kedelai
Bukan dinilai kau kalah ataupun menang
Jadilah dirimu sendiri yang terbaik
( Douglas Mallock )



Sumber :
Buku : Berani gagal
Penulis : Billi P.S. Lim

Senin, 01 Februari 2010

Makan Banyak Sayur Juga Tetap Bisa Gemuk

Berikut ini informasi yang mungkin belum diketahui oleh sebagian dari teman-teman sekalian. Kami berharap dengan mengetahui ini dapat menjadikan pelajaran. Karena selama ini jarang orang yang mengetahui bahwa dengan banyak mengkonsumsi sayurpun akan mengakibatkan badan menjadi gemuk.
Jadi, lebih baik kita ikuti pola makan Rasulullah saw, saja yuk..!!!















POLA MAKAN RASULULLAH


JENIS MAKANAN

Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain2 penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yg lainnya.

Ini pun adalah diet Rasullulah SAW kita juga. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

Jangan makan SUSU bersama DAGING
Jangan makan DAGING bersama IKAN
Jangan makan IKAN bersama SUSU
Jangan makan AYAM bersama SUSU
Jangan makan IKAN bersama TELUR
Jangan makan IKAN bersama DAUN SALAD
Jangan makan SUSU bersama CUKA
Jangan makan BUAH bersama SUSU CTH :- KOKTEL

CARA MAKAN

JANGAN MAKAN BUAH SETELAH MAKAN NASI , SEBALIKNYA MAKANLAH BUAH
TERLEBIH DAHULU, BARU MAKAN NASI.

TIDUR 1 JAM SETELAH MAKAN TENGAH HARI.

JANGAN SESEKALI TINGGALKAN MAKAN MALAM . BARANG SIAPA YG TINGGALKAN MAKAN MALAM DIA AKAN DIMAKAN USIA DAN KOLESTEROL DALAM BADAN AKAN BERGANDA.

Nampak memang sulit.. tapi, kalau tak percaya... cobalah.................................

Pengaruhnya tidak dalam jangka pendek.... Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti. Dalam kitab juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan
makanan laut. Nabi pernah mencegah kita makan ikan bersama susu. karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam
daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.

Al-Quran Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan spt membuat amalan antara lain: Mandi Pagi sebelum subuh, sekurang kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak gemuk.

Rasulullah mengamalkan minum segelas air sejuk (bukan air es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah mendapat sakit).Waktu sembahyang subuh disunatkan kita bertafakur (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud. Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir keruang tersebut.

Nabi juga mengajar kita makan dengan tangan dan bila habis hendaklah menjilat jari. Begitu juga ahli saintis telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme sejenis alat percerna makanan) Wassalam...

Sama-samalah kita mengamalkannya.......
WallahuA'lam

Sabda nabi, Ilmu itu milik Allah, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan insya Allah... Allah akan menggandakan 10 kali kepadanya.


[Catataan : kami tidak ada info referensi buku atau hadits yang terkait ilmu ini; mohon kesediaan saudaraku apabila memiliki info buku atau hadits dimaksud, dapat memberi informasi kepada kami – agar kita sama-sama belajar]



Sumber : Email dari sahabat ( iyin.alumi@suzuki.co.id )

Jumat, 29 Januari 2010

Arithmetical Magic

Absolutely amazing!
Beauty of Mathematics !!!!!!!

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant, isn't it?

And look at this symmetry:

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321



Now, take a look at this...


101%



From a strictly mathematical viewpoint:



What Equals 100%?
What does it mean to give MORE than 100%?

Ever wonder about those people who say they are giving more than 100%?

We have all been in situations where someone wants you to
GIVE OVER 100%.

How about ACHIEVING 101%?


What equals 100% in life?


Here's a little mathematical formula that might help
answer these questions:


If:

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Is represented as:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.


If:


H-A-R-D-W-O- R- K

8+1+18+4+23+ 15+18+11 = 98%


And:

K-N-O-W-L-E- D-G-E

11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%


But:

A-T-T-I-T-U- D-E

1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%



THEN, look how far the love of God will take you:



L-O-V-E-O-F- G-O-D

12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%


Therefore, one can conclude with mathematical certainty that:

While Hard Work and Knowledge will get you close, and Attitude will
get you there, It's the Love of God that will put you over the top!

It's up to you if you share this with your friends & loved ones just
the way I did..

Have a nice day & God bless!!




Sumber : kiriman email dari temen

Kamis, 28 Januari 2010

Mengalihkan Pandangan


Meskipun mata kita ada dua tetapi kesimpulan yang dihasilkan didalam pikiran kita hanya satu, yaitu antara positif dan negative. Fakta yang menunjukkan bahwa meskipun setiap hari mata kita melihat ribuan objek tetapi kesimpulan kita tentang objek itu 80%-nya sama dan 20%-nya yang berbeda.
Hal itu tidak bisa dilepaskan dari adanya fakta bahwa mata pikiran ini hanya akan melihat sesuatu yang sudah disimpulkan oleh pemahaman kita. Kalau pemahaman kita sudah negative maka kemungkinan besar mata pikiran kita hanya akan melihat bagian dari objek yang negative didalam diri kita kecuali ada saat ada saat tertentu dimana kita secara sadar memilih untuk memprogram pemahaman dan penglihatan.
Usaha untuk mengalihkan secara sadar inilah yang membedakan antara orang positif dan orang negative. Mungkin tidak ada orang yang selamaya memiliki pandangan dan pemahaman positif tentang dirinya yang bekerja secara otomatis tetapi kita bisa menggunakan ukuran seperti yang diajarkan dalam kitab suci, yaitu menggunakan timbangan.
Kalau 80% dari penglihatan ini digunakan untuk melihat daftar kesalahan masa lalu, kelemahan yang dimiliki, atau kekurangan yang menghambat kita maka penglihatan yang kita gunakan untuk melihat keinginan, kelebihan dan keunggulan hanya 20% dan angka ini berarti kita kurang produktif alias kita lebih banyak menggunakan waktu hidup yang hanya sekali ini untuk merasakan kepusingan daripada merasakan kebahagiaan.
Kalau usia rata – rata maksimal seseorang itu katakanlah seratus tahun, berarti delapan puluh tahun pusing dan hanya dua puluh tahun bahagia. Kebahagiaan yang hanya 20% ini oleh syairnya Imam Syafi’I digambarkan seperti kebahagiaan yang datangnya pada saat hari lebaran. Dengan kondisi demikian, berarti lebih berat timbangan negative daripada timbangan positif. Secara nalar dan hokum alam, timbangan yang negatifnya lebih berat daripada timbangan yang positif maka akan menghasilkan angka hasil yang lebih banyak negative daripada positif.



Sumber :
Buku : Melawan Musuh di dalam Diri
Penulis : AN. Ubaedy

Rabu, 27 Januari 2010

Merenung sebagai jalan masuknya Hikmah


Tafakur ( merenung ) adalah suatu kegiatan membaca ( iqro ) atau mengobservasi kejadian – kejadian ( fenomena ) dengan menggunakan seluruh potensi yang dimiliki, terutama akal untuk menganalisa dan kalbu untuk merasakan.
Produk dari kegiatan tafakur ini adalah suatu “ pencerahan “ yaitu berupa hikmah atau keyakinan ilahiyyah yang memudahkan untuk taat melaksanakan aturan main yang telah ditetapka oleh Tuhan ( Allah SWT ) dan Rasul-Nya. Ketaatan ini pada gilirannya akan membawa yang bersangkutan menuju apa yang dicita – citakannya yaitu di dunia bahagia dan diakherat menmpati Surga.
Rasulallah saw bersabda, “ sebaik – baik yang tertanam didalam hati adalah keyakinan “, sedangkan keyakinan tidak bisa tertanam hanya melalui mata dan telinga saja, tetapi ia harus “ dibenamkan “ kedalam bawah sadar oleh akal dan kalbu. Pendapat ini sejalan pula dengan pepatah, “ I hear I forget, I see I know, I do I understand “
Dengan demikian dapatlah kiranya dimengerti, mengapa pengajian agama yang sering kita ikuti seringkali tidak dapat menambah kekayaan “ keyakinan “ kita. Hal ini disebabkan tiada lain karena kita hanya menggunakan mata dan telinga saja, sementara akal untuk menganalisa dan kalbu untuk mencerna, kita tinggalkan dirumah.

Akal tanpa kalbu, menjadikan manusia seperti robot. Piker tanpa zikir, menjadikan manusia seperti setan



Sumber :
Buku : Bahan Renungan Kalbu
Penulis : Ir. Permadi Alibasyah

Jumat, 22 Januari 2010

Kisah Yu Timah


(dicuplik dari RESONANSI - Republika Desember 2006/Ahmad Tohari)

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. ”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. ”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?” ”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.” ”Mau ambil berapa?” tanya saya. ”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?” Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.
”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?” ”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.” ”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.” Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.
Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.
Lebih Baik memberi Dari pada menerima



Sumber : www.motivasi.web.id